Bedah Buku Ensiklopedi Pemikiran Islam Indonesia Abad XXI: 20 Penulis UIN Jakarta Himpun 50 Pemikiran Tokoh Islam Indonesia
Auditorium Prof. Suwito, Berita UIN Online – Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar forum akademik bedah buku yang berjudul “Ensiklopedi Pemikiran Islam Indonesia abad XXI”. Buku yang didiskusikan pada, Kamis (22/10/2026) di auditorium Prof. Suwito SPs UIN Jakarta tersebut mencoba merekam keragaman corak pemikiran tokoh-tokoh Islam Indonesia abad 21, sekaligus menyoroti sejumlah aspek yang masih perlu dikembangkan.
Direktur SPs UIN Jakarta, Prof. Dr. Zulkifli, M.A., dalam sambutannya menjelaskan bahwa setiap entri dalam ensiklopedi tersebut disajikan secara ringkas sebagai gambaran awal pemikiran tokoh. Karena itu, buku ini tidak dimaksudkan sebagai kajian yang menyeluruh atau final akan tetapi sebagai pemantik bagi para pembaca untuk menelusuri lebih dalam tokoh-tokoh yang dikaji dalam buku ini.
"Karena singkat, itu hanya sebagai gambaran umum, mungkin gambaran kuncinya saja dari pemikiran tokoh yang kita kaji ya. Jadi karya ini pemantik sebagai sparing partner untuk membuka wawasan kepada mahasiswa. Jadi bukan final, bukan lengkap tentu saja jauh dari lengkap karena ini ditulis untuk tujuan-tujuan itu ya," ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Inspektur IV Kementerian Agama RI, Prof. Muhammad Ishom Yusqi, M.Ag. selaku penggagas buku ini dalam sambutannya menjelaskan tentang latar belakang terbentuknya buku ini. Ia menyatakan bahwa gagasan penghimpunan pemikiran Islam Indonesia berangkat dari dorongan untuk menggali khazanah intelektual yang tumbuh di Nusantara. Menurutnya, pengembangan kajian Islam perlu memberi ruang lebih besar bagi pemikiran yang lahir dari pengalaman sosial, budaya, dan sejarah masyarakat Indonesia.
"tujuannya itu ingin mengangkat pemikiran-pemikiran, budaya-budaya, seni, dan seluruh khazanah intelektual yang lahir asli dari bumi Indonesia," ungkapnya.
Ia menilai khazanah tersebut perlu dikaji lebih lanjut agar akademisi tidak hanya menerima teori dari luar, tetapi juga mengembangkan pengetahuan yang berangkat dari konteks Indonesia.
Dalam sesi pemaparan bedah buku, Guru Besar UIN Jakarta, Prof. Dr. Suwendi, M.Ag., selaku penulis dan editor buku membawa perspektif berbeda atas terciptanya buku ini. Dalam pemaparannya ia menyebut buku lahir tidak semata-mata dari ruang kosong tetapi ini adalah representasi dari cendekiawan besar UIN Jakarta Prof. Harun Nasution yang pada saat itu menjabat sebagai Direktur SPs.
"Yang saat itu kita tahu bahwa beliau mendorong kepada seluruh mahasiswa Pascasarjana untuk memiliki pemikiran yang terbuka, Islam rasional. Beliau meminta kepada seluruh pascasarjana, mahasiswa, untuk berani menanyakan, sekalian juga mempertanyakan tentang Islam itu. Islam yang tidak hanya dipahami secara doktrin, tetapi juga harus dipahami secara rasional; Islam yang harus juga berdialektika dengan ilmu pengetahuan, tentu juga harus mampu berdialektika dengan realitas" tuturnya.
Lebih lanjut, ia juga menilai pentingnya pemetaan pemikiran islam Indonesia. Menurutnya, perubahan teknologi digital, media sosial, dan kecerdasan buatan sekarang ini turut mengubah cara masyarakat mengakses serta memproduksi pengetahuan. Kajian terhadap pemikiran Islam, tambahnya, tidak cukup berhenti pada gagasan tokoh, tetapi juga perlu menelaah bagaimana gagasan itu dibentuk, disebarkan, dan diterima masyarakat.
Sejalan dengan hal itu, Dosen FISIP UIN Jakarta, Muhammad Hasan Basri, M.A., Ph.D. coba memetakan isi buku ke dalam sembilan konfigurasi pemikiran. Konfigurasi tersebut mencakup keberagamaan, toleransi, pluralisme dan kemanusiaan; hubungan Islam, kebudayaan lokal dan identitas kebangsaan; puritanisme dan ideologi keagamaan; Islam dan kebijakan publik; gender dan keadilan perempuan; transformasi digital; tradisi keilmuan dan otoritas agama; pewarisan keilmuan pesantren; serta etika Islam dalam ekonomi dan kesejahteraan sosial.
Dosen FISIP itu menilai ensiklopedi tersebut dapat membantu pembaca mengenali keragaman corak pemikiran Islam Indonesia sekaligus menentukan tokoh atau tema yang ingin ditelusuri lebih jauh. Namun, ia juga mencatat bahwa penyajian buku masih lebih bertumpu pada entri tokoh dan belum sepenuhnya disusun secara tematik.
"Pembaca dapat memilih tokoh ataupun tema tertentu untuk ditelusuri lebih lanjut, karena sebuah ensiklopedi itu seperti kita membuka pintu pemikiran, di mana kemudian kita bisa memasuki rumah pemikiran itu seberapa jauh penelusuran kita mau di bagian apanya. Adapun minusnya, ensiklopedi lazimnya terdiri dari bab-bab atau entri dari A sampai Z, tetapi ini lebih kepada entri tokoh-tokoh sehingga belum sepenuhnya tematik." pungkasnya.
Berbeda dengan narasumber yang lain, Staf Ahli Menteri HAM RI, sekaligus cendekiawan NU, Prof. Dr. Rumadi Ahmad memberikan sejumlah catatan untuk pengembangan buku tersebut dibanding mengulas apa yang dibahas di dalam buku. Prof. Rumadi menyoroti di antaranya belum jelasnya kriteria pemilihan 50 tokoh, batasan periode “abad XXI”, serta perbedaan kedalaman pembahasan antartokoh.
"Pertama, soal kriteria pemilihan 50 orang itu. Gitu, ini tidak, belum, belum ada penjelasan yang, yang eksplisit, ya, kenapa 50 orang ini yang dipilih, gitu. Dan akan, mungkin akan lebih bagus kalau di dalam pengantar itu ada penjelasan yang apa adanya, yang bisa diterima secara akademik pemilihan 50 orang ini," usulnya.
Ia juga menilai hubungan antargagasan belum cukup dipetakan, sementara keterwakilan wilayah dan perempuan perlu mendapat perhatian. Selain itu, konsistensi penggunaan referensi dan pemanfaatan sumber primer masih perlu diperkuat.
Dalam sesi akhir pemaparannya, Prof. Rumaidi mengatakan bagaimanapun buku ini tetap penting untuk dibaca, terutama dalam melihat serta memahami pergulatan pemikiran Islam akhir abad 20 dan awal abad 21. Ia menambahkan, Ensiklopedi seharusnya tidak dipahami sebagai karya yang menuntaskan seluruh persoalan, melainkan sebagai sumber informasi awal yang mendorong pembaca melakukan penelusuran lebih lanjut. Karena itu, pengembangan edisi berikutnya dapat mempertimbangkan penambahan tokoh, pendalaman entri, dan pemetaan hubungan antara pemikiran.
"Jadi, memang ensiklopedi seperti ini itu tidak boleh ditutup dan dikunci hanya, hanya 50 orang ini. Harus dibuka, bahkan kalau kita belajar misalnya dari ensiklopedi yang di Prancis, itu puluhan tahun dia entrinya ditambah, Britanika juga begitu, entrinya selalu ditambah dan diperkaya sampai kemudian dia close pada saat tertentu. Nanti kalau ada yang lain, entri yang lain nanti di ensiklopedi yang baru, gitu." pungkasnya.
Sebagai informasi, Buku Ensiklopedi Pemikiran Islam Indonesia Abad XXI menghimpun pemikiran 50 tokoh muslim Indonesia abad 21 yang ditulis oleh 20 penulis yang terdiri dari guru besar, peneliti, akademisi serta sivitas akademika UIN Jakarta yang lain. Setiap entri disusun secara ringkas sebagai pengantar terhadap gagasan tokoh yang dibahas. Proses penulisan dilakukan pada tahun sebelumnya, sedangkan penerbitannya berlangsung tahun ini.
