Generasi Tanpa Istirahat

Generasi Tanpa Istirahat

Tantan Hermansyah

Dosen Sosiologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ADA masa di mana institusi kerja adalah ekosistem sosial-budaya yang mapan, bangunan dengan fondasi yang bisa diprediksi. Bagi Generasi X atau Milenial awal, dunia kerja menawarkan "peta jalan" yang terang benderang. Seseorang dengan keterampilan spesifik akan bertemu dengan posisi yang relevan. Sementara tangga karier disusun berdasarkan akumulasi pengalaman, durasi pengabdian, dan persyaratan administratif yang baku, jelas dan (umumnya) bisa dipenuhi. Di sana, masa depan bisa dihitung, dan istirahat adalah bagian dari ritme hidup yang sah.

Namun hari ini, narasi itu runtuh. Ada fenomena baru (meski tidak baru-baru amat), saat kaki-kaki Generasi Z (Gen-Z) melangkah masuk ke ruang kerja. Sepertinya mereka tidak sedang memasuki bangunan yang stabil, melainkan terjebak ke dalam "bubu"—perangkap ikan tradisional yang desainnya memungkinkan subjek masuk dengan mudah, tetapi nyaris mustahil untuk menemukan jalan keluar.

Lingkaran Setan Upskilling Konstan dan Algojo.

Fenomena yang kita saksikan saat ini bukan sekadar dinamika profesional biasa, melainkan "Burnout Massal" terstruktur. Gen-Z tidak lagi mengejar upskilling (peningkatan keterampilan) untuk mendaki tangga karier sebagaimana pendahulu mereka.

Bagi mereka, meningkatkan kapasitas diri setiap hari bukan lagi upaya untuk menjadi "lebih baik," melainkan mekanisme pertahanan hidup (survival mechanism) agar tidak terlempar dari sistem. Inilah yang secara sosiologis kita sebut sebagai hedonic treadmill (Kompas, 17/02/2026). Mereka berlari dengan kecepatan tinggi di atas ban berjalan yang statis. Mereka berkeringat, kehabisan napas, dan menguras seluruh energi hanya untuk tetap berada di titik yang sama.

Di sini, peningkatan skill bukan lagi tentang aktualisasi diri, mengejar posisi, atau mengukuhkan potensi. Peningkatan skill hanya untuk mengeliminasi kecemasan akan eksistensi. Sebab jika mereka berhenti belajar satu hari saja, sistem yang digerakkan oleh algoritma dan kompetisi global yang dingin akan segera menganggap mereka kedaluwarsa.

Jika kita membedah fenomena ini dengan perspektif sosiologi kontemporer, apa yang dialami Gen-Z sangat selaras dengan pemikiran Byung-Chul Han mengenai The Burnout Society (Masyarakat Kelelahan). Han menggambarkan subjek modern bukan lagi sebagai subjek ketaatan yang dipaksa oleh pihak luar, melainkan subjek prestasi yang menjadi korban sekaligus algojo bagi dirinya sendiri.

Gen-Z mengeksploitasi diri mereka sendiri atas nama produktivitas dan fleksibilitas. Mereka merasa bersalah saat beristirahat. Ironisnya, ancaman itu tidak selalu datang dari atasan yang otoriter, melainkan dari struktur pekerjaan yang kini didominasi oleh gig economy dan ketidakpastian kontrak. Dalam ekosistem yang serba instan ini, status "berhenti kerja" bisa terjadi kapan saja tanpa peringatan. Dari sini tampak sekali bahwa berkarier adalah bahasa lain dari mode “bertahan”.

Ketakutan ini diperparah oleh apa yang Yuval Noah Harari sebut sebagai ancaman useless class (kelas yang tak berguna). Gen-Z bukan hanya bersaing dengan sesama kolega, tetapi juga beradu tangkas dengan Kecerdasan Artifisial (AI). Mereka berlari menghindari kejaran mesin yang tidak pernah tidur, memaksa manusia untuk menghapus kata "istirahat" dari kamus hidupnya, lalu menjadi “robot” dengan engine kecemasan dan semangat resiliensi. Baca juga: Ancaman Pasca-Terbit UU PPRT.

Secara antropologis, Gen-Z adalah entitas yang paling terpapar oleh ketidakpastian global. Mereka tumbuh di bawah langit di mana cita-cita tidak lagi bisa diayunkan dengan cara-cara konvensional. Alam, iklim, dan struktur ekonomi tempat mereka bertumbuh sedang berada dalam fase dekonstruksi yang hebat. Namun di sisi lain, konteks ekologis yang mereka hadapi ini, justru buah dari beragam tindakan dan temuan generasi sebelumnya.

Oleh karena itu, bagi mereka, tindakan bernama "istirahat" bukan lagi pemulihan, melainkan ancaman serius yang bisa meruntuhkan seluruh struktur kehidupan yang sedang mereka bangun dengan susah payah. Mereka menjadi generasi yang paling "sunyi" di tengah keriuhan digital. Ruang sosial mereka tampak luas di media sosial, tapi secara eksistensial terasa sangat sempit karena terhimpit oleh tuntutan untuk selalu menjadi "versi terbaik" setiap detik.

Menuju Solusi Rekonstruksi Ruang Kerja. Kita tidak bisa membiarkan Gen-Z larut dalam situasi ketidakpastian masa depan ini. Perlu ada kesadaran kolektif dari para pemangku kepentingan—pemerintah, pemilik modal, dan institusi pendidikan—untuk mencari solusi terbaik.

Pertama, kita harus merekonstruksi definisi "produktivitas." Institusi kerja harus mulai menyadari bahwa manusia bukanlah mesin yang bisa terus di-upgrade tanpa batas. Perlu ada regulasi yang melindungi hak untuk "terputus" (right to disconnect) guna memberi ruang bagi kesehatan mental. Baca juga: Salah Kaprah Pajak Mobil-Motor Listrik.

Kedua, secara sosiologis, kita perlu membangun kembali jaring pengaman sosial yang lebih manusiawi di tengah derasnya arus ekonomi digital. Jangan sampai fleksibilitas kerja menjadi kedok bagi eksploitasi tanpa akhir.

Jika kita gagal melakukan intervensi ini, kita akan mewariskan peradaban di mana manusianya kehilangan kemanusiaannya karena dipaksa menjadi entitas yang hanya boleh berfungsi, tanpa pernah boleh berhenti. Gen-Z bukan sekadar pekerja; mereka adalah pewaris masa depan yang tidak boleh kita biarkan mati kelelahan di dalam "bubu" sistem yang kita ciptakan sendiri.

Artikel ini telah dipublikasikan di kolom opini Kompas pada Senin (27/4/2026).