Wisuda ke-139 UIN Jakarta, Rektor Ajak Lulusan Menjadi Pribadi Bernilai di Tengah Kompleksitas Digital Society
Auditorium Harun Nasution, Berita UIN Online — Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D., menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir dari proses pendidikan, melainkan awal dari tanggung jawab intelektual dan sosial para lulusan di tengah tantangan era digital pada Sidang Senat Terbuka Wisuda Program Sarjana, Magister, dan Doktor ke-139 UIN Jakarta yang digelar di Auditorium Harun Nasution, Ahad (08/02/2026).
Wisuda tahun akademik 2025/2026 ini mengusung tema “Digital Society: Generasi Religius, Smart, dan Berdampak Pada Masyarakat”, sebagai refleksi arah kebijakan pendidikan UIN Jakarta dalam merespons perkembangan teknologi yang semakin pesat, sekaligus meneguhkan nilai keislaman dan kemanusiaan sebagai fondasi utama lulusan.
Dalam sambutannya, Rektor mengajak para wisudawan untuk merefleksikan perjalanan akademik yang telah ditempuh. Ia menilai bahwa dinamika selama masa studi, baik yang menyenangkan maupun tidak merupakan bagian dari proses pembentukan mental dan karakter.
“Jangan membawa luka dan kekecewaan dari masa lalu. Kehidupan ke depan jauh lebih kompleks dan menuntut kedewasaan. Kalau kita berhenti bergerak karena pengalaman yang tidak menyenangkan, kita akan kehilangan keseimbangan hidup,” tegas Prof. Asep.
Ia menekankan bahwa kehidupan pascakampus menuntut lulusan untuk terus bergerak dan beradaptasi. Ia mengingatkan bahwa perubahan adalah keniscayaan, terlebih di tengah perkembangan teknologi dan masyarakat digital yang bergerak cepat.
Lebih lanjut, Rektor juga menyoroti kecenderungan sebagian lulusan yang menjadikan IPK dan predikat akademik sebagai tolok ukur utama keberhasilan. Menurutnya, capaian akademik harus ditempatkan sebagai modal awal, bukan tujuan akhir.
“IPK tinggi itu patut disyukuri, tetapi jangan berhenti di sana. Dunia tidak hanya menilai angka, tetapi menilai kepribadian, kemampuan komunikasi, dan keberanian untuk menghadapi persaingan,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, ia juga menyinggung tokoh-tokoh inovator dunia seperti Bill Gates sebagai contoh orientasi hidup yang berfokus pada nilai dan kebermanfaatan. Ia menilai bahwa kesuksesan besar para inovator lahir bukan dari obsesi terhadap kekayaan, melainkan dari niat memberi kemudahan bagi kehidupan manusia.
“Coba kita lihat Bill Gates dan para inovator besar lainnya. Mereka tidak berangkat dengan tujuan mencari uang. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana menghadirkan solusi dan kemudahan bagi orang lain. Materi datang sebagai akibat, bukan tujuan utama,” ungkapnya.
Menurut Rektor, filosofi tersebut relevan dengan nilai keislaman dan visi pendidikan UIN Jakarta. Ia menegaskan bahwa lulusan UIN Jakarta memiliki keunggulan spiritual yang harus dijadikan fondasi dalam berkarya dan berkontribusi di ruang publik.
Ia juga mendorong para wisudawan untuk memiliki role model dalam kehidupan. Sosok teladan, baik dari lingkungan keluarga, tokoh masyarakat, maupun figur nasional dan global, dinilai penting untuk menjaga arah dan konsistensi dalam membangun masa depan.
Di akhir pidatonya, Rektor mengajak seluruh hadirin untuk memperkuat solidaritas sosial melalui Social Trust Fund (STF) UIN Jakarta. Program ini menjadi sarana keberlanjutan bantuan pendidikan bagi mahasiswa yang menghadapi keterbatasan ekonomi. Rektor UIN Jakarta juga mengajak seluruh wisudawan dan hadirin untuk berpartisipasi dalam program Social Trust Fund (STF) UIN Jakarta. Program ini menjadi instrumen filantropi kampus yang bertujuan membantu mahasiswa UIN Jakarta yang menghadapi keterbatasan ekonomi agar tetap dapat melanjutkan studi.
Ajakan tersebut mendapat respons luas dari civitas akademika dan keluarga wisudawan. Melalui penghimpunan donasi secara realtime yang dilakukan sepanjang rangkaian dua hari pelaksanaan Wisuda ke-139, dana yang terkumpul mencapai Rp 27.406.554.
Dana tersebut akan dikelola oleh Social Trust Fund UIN Jakarta dan dimanfaatkan untuk mendukung keberlanjutan studi mahasiswa yang membutuhkan, sekaligus memperkuat semangat gotong royong di lingkungan kampus.
Menutup sambutannya, ia menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir, melainkan titik awal kehidupan baru. Ia mengajak para lulusan untuk tidak menunda kebaikan dan segera memulai peran aktif di masyarakat.
“Mulailah hidup kalian sekarang. Jangan menunggu waktu yang dianggap sempurna. Kehidupan dimulai hari ini, dan nilai diri kalian ditentukan oleh apa yang kalian lakukan setelah ini,” pungkasnya.
(Putri Khoirina N./Fauziah M./Zaenal M./Tiara Septiana D.)
