Refleksi Alumni, Dr. Abdul Muid Nawawi: Integritas Spiritual Menjadi Identitas Utama Lulusan UIN Jakarta
Auditorium Harun Nasution, Berita UIN Online – Prosesi Wisuda ke-139 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi momentum istimewa dengan kehadiran Dr. Abdul Muid Nawawi, MA., sebagai perwakilan alumni di Auditorium Harun Nasution, Sabtu, (7/2/2026). Sosok yang menempuh pendidikan S1 hingga S3 di UIN Jakarta ini membagikan perjalanan hidupnya yang merefleksikan pentingnya integritas, ketaatan pada guru, dan adaptasi terhadap perkembangan zaman.
Dr. Abdul Muid Nawawisaat ini menjabat sebagai Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta. Ia merupakan lulusan S1 Jurusan Tafsir Hadits (2001), S2 Konsentrasi Pemikiran Islam (2005), dan S3 Konsentrasi Pemikiran Islam (2011).
"Saya hadir di tempat ini untuk keempat kalinya. Di tahun 2001 saya hadir sebagai wisudawan S1, kemudian tahun 2005 sebagai wisudawan S2, lalu tahun 2011 sebagai wisudawan S3. Dan hari ini, kira-kira 15 tahun kemudian, saya kembali hadir dalam rangka wisuda. Karena itu, saya adalah alumni IAIN dan UIN asli," ujarnya.
Dalam sambutannya, Dr. Abdul Muid Nawawi menekankan satu prinsip hidup yang selalu ia pegang, yakni menjaga kedekatan dengan para ulama dan guru. Ia membagikan pengalaman pribadinya saat mendampingi Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., yang dimulai sejak sang guru masih menjadi dosen muda di kompleks dosen Ciputat.
Pengabdian atau khidmah ini dilakukan dengan penuh ketulusan selama bertahun-tahun, mencakup tugas-tugas sederhana seperti membantu membawa perlengkapan hingga mengingatkan jadwal harian sang guru.
"Tugas saya angkat-angkat tasnya, menjaga sepatu atau sandalnya agar tidak tertukar, dan mengingatkan waktu makan. Saya terus ikut dengan beliau sebagai bentuk tabarruk (mencari berkah)," jelasnya.
Khidmah yang ia jalankan ternyata meluas hingga ke urusan personal keluarga. Ia juga menceritakan bahwa ia sering kali dipercaya untuk mendampingi putra-putra Prof. Nasaruddin sebelum tidur dengan membacakan dongeng setiap malam. Pengalaman ini disampaikan untuk menunjukkan bahwa pengabdian kepada guru harus dilakukan dengan ikhlas, tanpa memandang besar atau kecilnya tugas yang diberikan.
Bagi Dr. Abdul Muid, segala pencapaian yang ia raih saat ini, termasuk kepercayaan untuk menjadi khatib rutin di Istana Kepresidenan, merupakan hasil nyata dari doa dan restu sang guru. Ia yakin bahwa kesempatan profesional yang terbuka luas baginya adalah manifestasi dari keberkahan atas pengabdian yang selama ini ia lakukan dengan sabar.
"Lama saya menanti jadi khatib di Masjid Istiqlal tidak dapat, namun justru yang saya dapatkan adalah jadwal rutin di Istana Presiden setiap tahun. Itu pasti karena berkah dari bapak seorang Nasaruddin Umar," tegasnya.
Terkait daya saing di dunia profesional, Dr. Abdul Muid menegaskan bahwa lulusan UIN Jakarta memiliki kelebihan pada aspek integritas spiritual. Menurutnya, alumni UIN memiliki bekal keagamaan yang kuat, yang tidak hanya bermanfaat bagi institusi tempat mereka bekerja, tetapi juga dalam membentuk karakter kerja.
"Alumni UIN memiliki disiplin yang kuat karena agamanya mengajarkan hal tersebut. Mereka bekerja dengan kesadaran bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi, sehingga integritas tetap terjaga tanpa memerlukan pengawasan ketat dari atasan," jelasnya.
Menghadapi tantangan masa depan, Dr. Abdul Muid mengingatkan agar para lulusan tidak terjebak dalam cara-cara konvensional. Ia mendorong alumni untuk melek teknologi dan mampu memvisualisasikan gagasan mereka ke dalam format audio-visual yang menarik. Menurutnya, representasi diri melalui dokumen fisik kini mulai tergantikan oleh konten digital yang lebih kreatif dan dinamis.
"Zaman sering kali berjalan jauh lebih cepat daripada kita berlari. Oleh karena itu, kita harus terus mengembangkan diri dan terus bergerak agar bisa menjadi manusia yang benar-benar bermanfaat bagi orang lain," pungkasnya.
(Amanda Fathiyah A./Fauziah M./Zaenal M./Fajri Nafisa/Foto: Azka Raysa P.)
