Ramadan in Campus: Madrasah itu Bernama Ramadan
Jakarta, Berita UIN Online – Membentuk sebuah karakter bukanlah satu hal yang sederhana. Banyak teori yang bermunculan mulai dari cara hingga berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam membentuk sebuah karakter. Belum ada rumusan yang dapat memastikan kapan karakter itu dapat terbentuk, diawali dengan 21 rules yang sudah diperdebatkan sejak lama, hingga tiga bulan tenggat waktu yang diadopsi kalangan militer. Hal ini dikarenakan sifat dinamis manusia yang menjadikan setiap manusia memiliki fase dan cara mereka sendiri dalam membentuk sebuah karakter.
Ramadan Short Course
Prof. Ahmad Thib Raya, Guru Besar bidang Bahasa Arab UIN Syarif Hidayatullah, mengibaratkan Ramadan dengan Short Course atau fase pendek pembinaan karakter yang menjadi madrasah bagi seorang muslim. Tentu madrasah ini memiliki berbagai keistimewaan yang menjadikan Ramadan berbeda dengan 11 bulan lainnya dalam penanggalan hijriyah.
”Ramadan menjadi berbeda dengan bulan lainnya, karena ialah bulan yang A’zhim dan Mubaarak. A’zhim dengan lailatul qadar didalamnya dan Mubaarak dengan berbagai keutamaan ibadah yang hanya dilipatgandakan pada bulan tersebut,” ucap Prof. Thib Raya.
Dalam perspektif lain, Ramadan dapat dilihat sebagai momen shortcut bagi seorang muslim untuk memupuk pahala sebanyak-banyaknya. Pahala amalan sunnah yang diibaratkan dengan pahala amalan wajib, hingga pahala amalan wajib yang dilipatgandakan. Namun, jika ditelisik lebih lanjut, inilah yang menjadikan Ramadan sebagai inkubator dalam mencapai karakter taqwa.
Behavior Scientist Stanford University, BJ Fogg mengemukakan sebuah teori kebiasaan yang dinamai dengan Fogg behaviour model yang berbunyi
B = M.A.T
Behaviour = Motivation x Ability x Trigger
Motivation atau motivasi, sebuah gejolak yang timbul dikarenakan rasa memiliki yang kuat, dorongan dalam mencapai suatu sensasi, atau perasaan dalam mengantisipasi sesuatu. Komponen berikutnya yaitu Ability atau kemampuan, harus dipahami bahwa motivasi belum cukup karena kebiasaan perlu disesuaikan dengan kapasitas yang ada. Hal ini bertujuan agar kebiasaan tersebut dapat berlaku terus menerus. Komponen terakhir adalah Trigger atau pemicu.
Lailatul qadar dan berbagai keistimewaan amalan pada Ramadhan sudah sepantasnya menjadi motivasi luar biasa. Malam di mana ibadah yang dilakukan hanya pada satu malam dinilai seperti ibadah selama seribu bulan. Dilipatgandakannya pahala yang dilakukan pada Ramadan amat sayang jika dilewatkan.
Begitu juga tenggat waktu yang disediakan hanya satu bulan dalam setahun. Hal ini menjadi trigger yang memicu kita agar memaksimal setiap momen Ramadan, mengingat jika kita melewatkan momen Ramadan maka perlu menunggu 11 bulan lagi untuk berjumpa dengan Ramadan.
Sebuah Pesan dari Abah
Prof. Ahmad Thib Raya tidak hanya dikenal sebagai Guru Besar UIN Jakarta, tetapi Prof. Thib merupakan tokoh nasional yang dihormati oleh banyak tokoh di seluruh penjuru negeri. Dalam berbagai kesempatan, Prof. Thib Raya kerap disapa dengan panggilan "Abah" sebagai bentuk penghormatan. Abah berpesan kepada seluruh umat muslim untuk memaksimalkan momen Ramadan ini, agar setelah usai, sebuah karakter baru bernama taqwa dapat diraih.
Tidak luput, Abah juga turut berpesan kepada seluruh mahasiswa UIN Jakarta agar momen Ramadan tidak dijadikan alasan untuk bersantai dalam tiap agenda akademik. Mahasiswa juga perlu banyak berdoa agar segala hajat baik dikabulkan.
“Walaupun sedang dalam keadaan berpuasa, jangan lupa untuk menuntaskan segala tugas perkuliahan yang ada, dan yang sedang mengerjakan tugas akhir sembari menulis dibarengi dengan do'a agar selalu dimudahkan dalam meraih kesuksesan,” katanya.
Pembahasan lengkap mengenai momentum Ramadan sebagai madrasah bagi umat muslim menurut pandangan Prof. Thib, dapat diakses di sini.
(M. Hanif Al-Fatih/Zaenal M./Amalia Vilistin/Foto: PIH)