Ramadan In Campus: Di Balik Rahasia Puasa, Sebuah Detoksifikasi Paling Sederhana Bagi Tubuh

Ramadan In Campus: Di Balik Rahasia Puasa, Sebuah Detoksifikasi Paling Sederhana Bagi Tubuh

Jakarta, Berita UIN Online – Bulan Ramadan dengan berbagai keutamaannya memiliki banyak keistimewaan yang tidak terdapat pada bulan lainnya. Salah satu keutamaan tersebut adalah ibadah puasa. Tidak hanya bernilai pahala, namun puasa sering diidentikan dengan kesehatan ternyata memiliki berbagai keajaiban di baliknya.

Nobel Prize in Medicine 2016

Peneliti biologi sel Jepang, Dr. Yoshinori Ohsumi, berhasil memenangkan Nobel Prize in Medicine 2016. Penelitiannya tentang puasa menjelaskan bahwa ketika seseorang berpuasa maka sel-sel yang rusak akan mati secara terprogram dan digantikan dengan sel-sel baru, sehingga hanya menyisakan sel-sel yang sehat dan dapat  berfungsi dengan optimal dan inilah yang disebut dengan autophagy.

Ibarat membuang sampah yang tidak lagi dibutuhkan, puasa menjadi proses detoksifikasi paling sederhana yang dibutuhkan tubuh manusia. Manfaat-manfaat seperti penguatan fungsi otot, meningkatkan kesehatan otak hingga mencegah penuaan dini akibat penumpukan sel-sel rusak dalam tubuh, bisa didapatkan dengan berpuasa.

Lalu bagaimana puasa yang kita lakukan bisa menjadi detoksifikasi paling sederhana tersebut, Prof. Flori menyebutkan bahwa puasa yang ideal adalah puasa yang mengikuti ketentuan-ketentuan yang Nabi Muhammad SAW contohkan.

Mencapai Hikmah Puasa

Puasa yang ideal adalah puasa yang sesuai dengan kebiasaan nabi, seperti mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka. Serta menu yang disantap saat sahur dianjurkan memiliki kecukupan gizi yang baik, seperti menu dengan pilihan tinggi protein, serat, vitamin dan mineral, dan rehidrasi yang cukup, karena selama puasa tubuh akan diistirahatkan dari asupan tersebut.

Pada saat berbuka tentu jika ingin mencapai hikmah puasa, pilihan menu harus menjadi perhatian, hindari makanan berkalori tinggi dan lemak jenuh seperti sajian tinggi gula dan gorengan. Nabi telah mencontohkan salah satunya berbuka dengan kurma, tentu kurma adalah buah dengan gizi yang sangat kompleks, kandungan protein dan seratnya cocok untuk menjadi pembuka ketika waktu ifthar tiba.

Hal ini senada dengan pernyataan Prof. Flori, ia menjelaskan Kurma memiliki kandungan gula sederhana yang cukup banyak serta tinggi pada gizi, kondisi tubuh yang tidak menerima asupan selama berjam-jam, membuat tubuh membutuhkan makanan yang mudah dicerna dalam waktu cepat.

“Maka memilih berbuka dengan kurma dan makanan sehat lainnya, jauh lebih baik dibanding kita berbuka puasa  dengan makanan yang berat dicerna,” ujar Prof. Flori.

Beberapa kondisi yang harus dikontrol dengan baik, dipertimbangkan ketika berpuasa Diabetes berat, ibu hamil, gagal ginjal dan keluhan lambung lainnya.

Prof. Flori juga mengingatkan beberapa kondisi kesehatan yang harus dipertimbangkan ketika berpuasa, seperti diabetes dengan kondisi berat, ibu hamil, gagal ginjal, dan keluhan lambung lainnya. kontrol yang baik dan pemilahan terhadap makanan saat berpuasa amat diperlukan.

Prof. Flori sendiri merupakan guru besar Fakultas Kedokteran UIN Jakarta bidang farmakologi, yang banyak meneliti tentang obat-obatan tradisional dan pengobatan Nabawi. Prof. Flori berpesan ketika menginginkan hikmah puasa maka harus diperhatikan bagaimana kita menjalaninya.

“Selama 30 hari kita berpuasa, jika dilakukan secara paripurna maka tubuh ketika kembali dalam keadaan fitrah, yaitu kondisi dimana hanya ada sel sel baik nan sehat pada tubuh kita,” ucap Prof. Flori.

Pembahasan lengkap mengenai detoksifikasi puasa oleh Prof. Flori, dapat diakses di sini.

(M. Hanif Al-Fatih/Zaenal M./Widhi Damar A./Foto: PIH)

Tag :