Perkuat Internasionalisasi Prodi PBSI, FITK UIN Jakarta Hadirkan Timo Duile dari University of Bonn
Ciputat, Berita UIN Online — Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan Kuliah Tamu bertajuk “Kajian Sastra dan Ekologi: Plural Ecologies in Indonesian Literature” pada Selasa, 22 September 2026, di Teater Lantai 3 Gedung FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Kegiatan ini menghadirkan Dr. Timo Duile, peneliti dari Department of Southeast Asian Studies, University of Bonn, Jerman. Kuliah tamu tersebut mempertemukan kajian sastra dan ekologi untuk mendiskusikan hubungan manusia dengan makhluk nonmanusia dalam sastra Indonesia.
Acara dibuka oleh Salamah Agung, Ph.D., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam sambutannya, Salamah Agung menyampaikan selamat datang kepada Timo Duile dan menekankan pentingnya kehadiran akademisi internasional dalam membangun ekosistem akademik yang semakin terbuka terhadap kolaborasi lintas negara. Kehadiran Timo Duile sebagai Fellowship Researchers diharapkan menjadi salah satu pemicu lahirnya kolaborasi internasional yang lebih berkelanjutan dengan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membuka ruang pertukaran gagasan, pengembangan penelitian bersama, serta memperkuat jejaring akademik antara UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi internasional.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Dr. Ahmad Bahtiar, M.Hum., Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Ahmad Bahtiar menyoroti pentingnya pengembangan kajian sastra interdisipliner sebagai bagian dari pembelajaran mahasiswa. Menurutnya, sastra tidak harus selalu dibaca semata-mata melalui pendekatan kesastraan, tetapi dapat dipertemukan dengan berbagai bidang ilmu lain untuk menghasilkan sudut pandang yang lebih luas.
Pendekatan yang digunakan Timo Duile menjadi salah satu contoh bagaimana karya sastra dapat dibaca dari perspektif disiplin lain. Dengan latar belakang antropologi, Timo Duile melihat karya sastra bukan hanya sebagai teks estetis, tetapi juga sebagai ruang untuk memahami pandangan masyarakat mengenai manusia, hewan, alam, kepercayaan, dan perubahan sosial. Perspektif semacam ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa PBSI untuk melihat hubungan sastra dengan antropologi, ekologi, sejarah, sosiologi, serta bidang ilmu lainnya.
Memasuki sesi presentasi, Indah Fadhilla, M.Hum. dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi pemapar pertama dengan materi “Permainan Alegori dalam Novel O Karya Eka Kurniawan: Relasi Manusia dan Hewan sebagai Kritik Kemanusiaan.” Paparan tersebut berangkat dari kajiannya yang telah diterbitkan dalam Paradigma: Jurnal Kajian Budaya dan membahas bagaimana relasi tokoh manusia dan hewan digunakan sebagai strategi alegoris untuk mempertanyakan makna kemanusiaan.
Dalam novel O, perbandingan antara manusia dan hewan dibangun melalui empat nama yang muncul sekaligus pada tokoh manusia dan tokoh hewan, yaitu O, Entang Kosasih, Wulandari, dan Betalumur. Kesamaan nama tersebut membuka ruang untuk membandingkan watak, tindakan, bahasa, emosi, dan tujuan hidup masing-masing tokoh.
Melalui pola tersebut, novel O memperlihatkan permainan alegori yang membalik anggapan umum mengenai manusia dan hewan. Sejumlah tokoh hewan justru memperlihatkan empati, kesetiaan, dan kepedulian yang diasosiasikan dengan sifat manusiawi. Sebaliknya, beberapa tokoh manusia memperlihatkan kekerasan, pemangsaan, dan tindakan yang menyerupai insting hewani. Pertentangan tersebut menghadirkan dua gerak penting, yaitu being human dan becoming animal.
Novel O mempertanyakan kembali makna kemanusiaan karena tindakan menolong justru dilakukan oleh hewan, sedangkan manusia yang seharusnya diasosiasikan dengan kepedulian tampil sebagai penonton.
Melalui permainan alegori tersebut, batas manusia dan hewan tidak lagi hadir secara sederhana. Kemanusiaan tidak semata-mata ditentukan oleh tubuh manusia, tetapi oleh tindakan dan kepedulian kepada yang lain. Pertemuan antara sifat manusiawi pada hewan dan insting hewani pada manusia pada akhirnya menjadi strategi kritik terhadap manusia yang kehilangan empati, kesetiaan, dan rasa humanis.
Setelah pemaparan Indah Fadhilla, sesi dilanjutkan dengan presentasi Dr. Timo Duile mengenai relasi manusia dan nonmanusia dalam sastra Indonesia melalui perspektif plural ecologies, terutama dengan membandingkan Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis dan Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan.
Timo mengawali pembahasan dengan menjelaskan pentingnya perspektif ekologi dalam analisis sastra. Sastra tidak hanya dapat dibaca sebagai cermin masyarakat, tetapi juga sebagai ruang untuk memahami berbagai hubungan antara manusia, hewan, alam, kepercayaan, dan perubahan sosial. Perspektif ini menjadi penting karena krisis ekologi juga dapat dipahami sebagai krisis wacana dan krisis dalam cara masyarakat membangun hubungan dengan dunia di sekitarnya.
Konsep plural ecologies digunakan untuk menunjukkan bahwa suatu ekologi mengandung konsep tertentu mengenai makhluk serta hubungan di antara makhluk-makhluk tersebut. Ekologi bukan hanya persoalan alam secara fisik, tetapi juga menyangkut praktik sosial: suatu masyarakat dapat mengakui, memperhatikan, mengabaikan, bahkan menyangkal keberadaan makhluk tertentu.
Dalam pembacaan terhadap Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis, Timo menunjukkan adanya sejumlah pandangan ekologis yang saling berhadapan. Harimau dapat dipahami sebagai hewan biasa, sebagai bagian dari kepercayaan animistik, ataupun sebagai simbol ketakutan dan persoalan manusia. Berbagai kemungkinan tersebut pada akhirnya bergerak menuju suatu pandangan ekologis yang lebih tunggal. Karena itu, novel tersebut dibaca sebagai contoh pergerakan dari ecological pluralism menuju ecological monism. Sebaliknya, Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan mempertahankan pluralitas pemaknaan terhadap harimau sehingga dapat dibaca sebagai contoh plural ecology.
Pembacaan terhadap Harimau! Harimau! juga memperlihatkan pergeseran dari animisme menuju humanisme-Islam saintifik. Dalam novel tersebut terdapat pertentangan antara kepercayaan mistik, pandangan modern, serta pemahaman terhadap harimau sebagai hewan. Harimau pada awalnya memiliki beberapa kemungkinan makna: sebagai makhluk yang dikirim Allah, sebagai bagian dari kekuatan mistik, maupun sebagai hewan biasa. Pada perkembangan cerita, harimau juga dimaknai sebagai simbol ketakutan, kemarahan, dan rasa balas dendam dalam diri manusia.
Pada bagian berikutnya, Timo membahas Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan. Dalam novel tersebut, posisi harimau menjadi lebih kompleks. Harimau dapat dipahami sebagai pelindung yang membantu dan menemani Margio, tetapi sekaligus menjadi kekuatan yang sulit dikendalikan. Harimau juga dapat dibaca sebagai ancaman yang berkaitan dengan deforestasi serta sebagai tanda krisis lingkungan akibat pembangunan dan perubahan sosial pada masa Orde Baru. Di sisi lain, aparat kepolisian dalam novel tidak mengakui harimau sebagai subjek. Keragaman perspektif tersebut menunjukkan bahwa pemahaman terhadap makhluk nonmanusia selalu berkaitan dengan dunia atau ekologi yang digunakan manusia untuk menafsirkan realitas.
Pertemuan kedua paparan tersebut membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai hubungan sastra, antropologi, ekologi, dan kemanusiaan. Pembacaan alegoris yang disampaikan Indah Fadhilla menunjukkan bagaimana sastra dapat menggoyahkan batas hierarkis antara manusia dan hewan dengan mempertanyakan kembali ukuran-ukuran yang selama ini digunakan untuk mendefinisikan kemanusiaan. Sementara itu, perspektif plural ecologies yang ditawarkan Timo Duile memperluas pembacaan tersebut dengan menunjukkan bahwa hubungan manusia dan nonmanusia juga dibentuk oleh beragam sistem pengetahuan, kepercayaan, praktik sosial, dan perubahan ekologis.
Kuliah tamu berlangsung interaktif dengan diskusi mengenai animisme, modernitas, perubahan lingkungan, relasi manusia dan nonmanusia, serta kemungkinan sastra menjadi ruang untuk memikirkan kembali posisi manusia di tengah dunia yang lebih luas daripada dunia manusia semata.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat pengembangan kajian sastra interdisipliner di lingkungan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Melalui perjumpaan antara sastra, antropologi, dan kajian ekologi, mahasiswa dan sivitas akademika diajak melihat bahwa persoalan kemanusiaan tidak dapat dilepaskan dari hubungan manusia dengan hewan, alam, dan berbagai entitas nonmanusia yang hidup bersamanya.
Kuliah tamu ini juga menjadi bagian dari upaya Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam memperkuat atmosfer akademik serta membuka peluang kolaborasi internasional yang lebih berkelanjutan melalui fellowship, pertukaran gagasan, penelitian bersama, dan pengembangan kajian sastra interdisipliner.
