Kisah Inspiratif Mafatihatul Maghfirah: Dari Jualan Risol Hingga Jadi Wisudawan Terbaik Lulus Jalur Jurnal

Kisah Inspiratif Mafatihatul Maghfirah: Dari Jualan Risol Hingga Jadi Wisudawan Terbaik Lulus Jalur Jurnal

Auditorium Harun Nasution, Berita UIN Online Menjadi wisudawan terbaik sekaligus mandiri secara finansial bukan hal yang mustahil. Bukti nyata ini ditunjukkan oleh Mafatihatul Maghfirah, mahasiswa program studi Bahasa dan Sastra Arab yang berhasil menjadi salah satu Wisudawan Terbaik pada Wisuda ke-140 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Perjalanan Mafa untuk mencapai titik ini penuh dengan kerja keras dan keteguhan sikap yang sangat menginspirasi.

​Berasal dari Madura, Mafa harus beradaptasi dengan kehidupan merantau di ibu kota demi menempuh pendidikan. Sejak awal kuliah, tekadnya sudah bulat untuk tidak menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja. “Sejak semester satu, saya sudah menanamkan pola pikir untuk menjadi yang terbaik. Rasanya rugi kalau sudah merantau jauh-jauh tapi tidak berprestasi,” ungkap Mafa. Pola pikir inilah yang membuatnya selalu konsisten menjaga dan mempertahankan nilai IPK-nya tetap tinggi.

​Sisi lain yang luar biasa dari Mafa adalah kemandirian finansialnya. Sejak semester dua, ia sudah mampu membiayai uang kuliahnya sendiri tanpa membebani orang tua karena berani berwirausaha tanpa rasa gengsi. Melalui brand Kedai Kita yang dipasarkan lewat TikTok dan Instagram, Mafa aktif membuat dan menjual aneka jajanan, seperti risol, brownies, hingga bolu ketan yang sempat viral. Memasuki semester enam, ia semakin fokus menjalankan bisnisnya demi mengejar target biaya kuliah dan persiapan wisuda. Bagi Mafa, gengsi bukanlah penghalang untuk maju. “Tidak ada kata gengsi dalam berwirausaha selama proses yang dijalani halal dan jujur,” tegasnya.

​Prestasi Mafa tidak berhenti di ruang kelas dan bisnis kuliner saja. Ia juga berhasil mengikuti program KKN Internasional, sebuah program pengabdian masyarakat mandiri yang membutuhkan kesiapan fisik serta finansial yang matang. Agar tidak terbebani biaya secara pribadi, Mafa aktif menyebar proposal sponsorship. Berkat keaktifannya tersebut, ia berhasil mendapatkan dukungan dana dari berbagai pihak, termasuk dari Bapak Kementerian Haji, pihak kampus, hingga dukungan dari orang tuanya sendiri.

​Puncak pencapaian akademiknya terjadi di semester enam, saat ia mengambil peluang program kelulusan cepat non-skripsi melalui jalur publikasi jurnal terakreditasi SINTA berjudul “Pemberdayaan Santri Melalui Pembelajaran Fiqih Ubudiyah di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi'in Wedi Kapas Bojonegoro.” Motivasi besar datang dari Ketua Program Studi yang meyakinkannya bahwa ia bisa menjadi wisudawan terbaik jika mampu menyelesaikan jurnal dan lulus di semester tujuh. Mafa menyambut tantangan tersebut dengan kerja keras, hingga akhirnya resmi menyandang gelar sarjana dalam waktu 7 semester sekaligus meraih predikat sebagai wisudawan terbaik.

​Di akhir ceritanya, Mafa memberikan sebuah analogi mengenai kedisiplinan dan proses menghargai hal-hal kecil. “Jangan pernah meremehkan hal sekecil apa pun. Uang seratus ribu rupiah tidak akan pernah menjadi seratus ribu tanpa adanya uang seratus rupiah,” tuturnya. Ia mengingatkan bahwa hal-hal kecil yang sering disepelekan mahasiswa seperti tertib di kelas, datang tepat waktu tanpa telat 5 menit, atau menahan diri tidak main HP saat dosen mengajar, mungkin terlihat sepele. Namun, kedisiplinan pada hal kecil itulah yang membentuk karakter kuat setelah lulus nanti. 

(Irfan Mufid/Zaenal M./Sambu Sayyidul./Foto: Hermanuddin.)