Hikmah Idul Fitri: Refleksi Puasa Ramadan dan Solidaritas untuk Gaza

Hikmah Idul Fitri: Refleksi Puasa Ramadan dan Solidaritas untuk Gaza

Jakarta, Berita UIN Online - Guru besar bidang Sejarah Peradaban Islam, Prof. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim, M.A., mengajak umat Islam untuk merenungkan makna puasa Ramadan yang telah dijalani selama sebulan penuh, serta memanfaatkan hari raya Idul Fitri sebagai momen untuk mengembangkan nilai-nilai yang diperoleh selama Ramadan ke dalam kehidupan sehari-hari.

“Marilah kita panjatkan syukur karena hari ini kita telah berhasil melewati shiyamu Ramadan selama satu bulan penuh, dan kini sampai pada hari raya Idul Fitri. Secara syariah, kita sudah sah melakukan puasa Ramadan dari tanggal 1 hingga akhir, namun yang lebih penting adalah nilai-nilai yang telah kita dapatkan untuk diterapkan dalam kehidupan nyata,” ujar Prof. Sudarnoto dalam wawancaranya.

Menurutnya, ibadah Ramadan memiliki dua dimensi penting, yakni dimensi vertikal yaitu berupa spiritualitas dan dimensi horizontal yang menekankan pada kepedulian sosial. “Atensi kita yang sungguh-sungguh, bahwa kita sedang melakukan sesuatu yang sangat suci bagi kita, dan kewajiban kita untuk menerjemahkan makna puasa bagi kehidupan nyata, kepedulian terhadap orang lain harus diperkuat. Ta'awaun dan ukhuwah Islam harus diperkokoh,” ungkap penulis orasi berjudul Karakteristik Islamofobia.

Lebih lanjut, Prof. Sudarnoto menjelaskan bahwa setiap pelajaran yang didapat selama Ramadan harus dipertahankan dan dikembangkan. “Apabila kita telah melakukan ajaran-ajaran yang didapatkan selama Ramadan dengan baik, maka kita telah memperoleh kekuatan yang luar biasa, yaitu kekuatan spiritual dan moral,” jelasnya.

Idul Fitri, yang jatuh pada 1 Syawal, sering kali dimaknai sebagai hari kembali ke fitrah, yang berarti kembali suci dalam segala hal. Baik dari ucapan, pikiran, tindakan, hingga perbuatan. Makna Idul Fitri juga mencakup arti “kembali makan”, karena pada hari tersebut berpuasa diharamkan sesuai hukum Islam.

Namun, meski hari kemenangan tersebut diperingati dengan kegembiraan, Prof. Sudarnoto menegaskan bahwa perayaan Idul Fitri tidak boleh dilakukan secara hedonis. “Hedonis sangat bertentangan dengan prinsip ajaran Islam, dan seharusnya kita memperkuat komitmen kita untuk memberikan kepedulian kepada orang yang membutuhkan,” jelas Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional ini.

Salah satu kelompok yang sangat membutuhkan perhatian adalah saudara-saudara kita di Gaza. Prof. Sudarnoto menggambarkan situasi di Gaza yang sangat memprihatinkan. “Begitu banyak keluarga di Gaza yang tidak bisa menikmati kehidupan secara normal, kematian, penyakit, dan kerusakan di berbagai sektor pembangunan yang begitu luar biasa, sehingga membutuhkan bantuan kemanusiaan dan rekonstruksi Gaza,” ungkap Prof. Sudarnoto menceritakan suasana di Gaza.

Guru besar UIN Jakarta ini mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk meningkatkan rasa solidaritas dan kepedulian terhadap Gaza. “Dalam kesempatan satu Syawal ini, mari kita kokohkan rasa solidaritas kita untuk memberikan kepedulian. Setelah adanya perubahan, dalam jangka panjang mari kita bangun program rekonstruksi Gaza,” ajaknya.

Prof. Sudarnoto juga menekankan pentingnya dukungan jangka panjang untuk rekonstruksi Gaza. Menurutnya, upaya tersebut membutuhkan waktu yang lama dan dana yang besar, sehingga tidak dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan masyarakat sipil Gaza saja. “Jangan sampai Gaza direbut dan dikuasai oleh Amerika dan Israel. Ini waktunya dunia Islam bersama-sama membangun dan memerdekakan Gaza, Palestina,” pesannya.

Untuk informasi selengkapnya dapat disaksikan di sini.

(Alfina Ika Arianti/Aida Adha S./Fauziah M./Amalia Vilistin)

Tag :