Haji, Perdamaian, dan Plastik

Haji, Perdamaian, dan Plastik

Prof. Dr. Sukron Kamil M.Ag.
Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta

Hingga hari ini, perjanjian damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menemui jalan buntu. Keduanya tak saling melunak. AS mendesak Iran untuk menghentikan seluruh program nuklirnya, termasuk menyerahkan cadangan uraniumnya, dan mengizinkan inspeksi AS tanpa batas. Bagi Iran itu lebih sebagai ultimatum daripada undangan berdamai.

AS menuntut diakhirinya juga blokade atas di Selat Hormuz. Sementara Iran menginginkan sebaliknya. Padahal, kerugian ekonomi bagi Iran ditaksir mencapai 270 miliar dolar AS (sekitar Rp 4.629 triliun, melebihi APBN Indonesia tahun 2026 ini yang berjumlah Rp 3.153,6 triliun) akibat berbagai kerusakan infrastruktur.

Sedangkan kerugian yang diderita AS sekitar 40 hingga 50 miliar dolar AS (sekitar Rp 693 triliun hingga Rp 866 triliun), jauh melampaui estimasi awal, meski lebih kecil ketimbang Iran. Termasuk di dalamnya AS kehilangan 42 pesawat dan rusaknya berbagai pangkalan militer. Bahkan, membuat bisnis global merugi Rp 441,85 Triliun.

Haji dan Perdamaian

Bagi dunia, perang AS-Iran yang dimulai 28 Februari 2026 hingga hari ini sesungguhnya mengagetkan. Umumnya orang di dunia agaknya mengira Perang AS-Iran akan berlangsung sebagaimana operasi militer Amerika Serikat untuk menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro dan menaklukkan Venezuela dalam waktu sekitar 2 jam 20 menit hingga 2,5 jam. Paling tidak, secepat AS menaklukkan Irak, lawan Iran dalam perang sebelumnya. Namun, hingga kini ternyata masih berlangsung.

Dalam perang Iran-Amerika Serikat malah memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi Iran yang tinggi. Hampir semua/sebagian besar rudal yang digunakan dalam perang, terutama serangan Iran ke Israel dan pangkalan udara AS sebagai balasan adalah produk dalam negeri Iran. Beberapa laporan menunjukkan jangkauan rudal Iran mampu mencapai 1.760 kilometer dengan muatan 750 kilogram, meski jangkauan sebenarnya yang nyata agaknya sekitar 1.000 kilometer/kurang. Bahkan, kini dunia khawatir jika Iran menggunakan rudal balistik yang bisa berisi senjata nuklir yang bisa mematikan Timur Tengah dan dunia lain, meski keberadaan senjata nuklir di Iran yang dikembangkannya hingga kini masih hanya dugaan/dugaan besar.

Meskipun begitu, di momen haji hendaknya kedua belah pihak menahan diri untuk bisa berdamai, meski keduanya harus menurunkan tuntutannya, terutama AS. Dalam berdamai kedua pihak tak bisa mendapat semua keinginannya. Dalam tuntutan itu tampak memang negara berkembang, apalagi negara Islamic State seperti Iran, yang bisa menjadi ancaman bagi Barat di bawah AS dilarang sama sekali mengembangkan nuklir.

Sementara saat mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad (berkuasa 2005-2013) berkunjung ke UIN Jakarta, penulis sempat mengobrol soal nuklir Iran itu. Katanya, jika mereka (Barat) bisa mengembangkan nuklir, mengapa Iran tak boleh. Sementara dalam teologi Syi’ah/Islam Iran, membela dan menuntut keadilan adalah bagian dari rukun iman, kepercayaan dasarnya.

Yang mengerikan adalah jika perang AS-Iran berlanjut dan masing-masing menggunakan senjata nuklirnya, maka kiamatlah dunia dan korbannya akan lebih banyak. Bukan hanya alam semesta, hayati dan non hayati, tetapi juga terutama manusia. Semua bertentangan dengan nilai/pesan-pesan haji di atas.

Yang harus menjadi pelajaran juga, Yaman sejak 2012, pasca-Arab Spring, terjerembab dalam konflik internal (Syi’ah-Sunni) dan karena konflik/perang saudara itu, pada tahun 2019, 7 tahun setelah konflik bersenjata, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa Yaman adalah negara yang sangat memprihatinkan. Yaman tragis menjadi negara yang paling membutuhkan bantuan kemanusiaan untuk sekitar 24 juta orang (85%) populasinya. Pada tahun 2020, setahun kemudian, Yaman berada di peringkat tertinggi dalam Indeks Negara Gagal, terburuk kedua dalam Indeks Kelaparan Global (Global Hunger Index). Yaman hanya dilampaui oleh Republik Afrika Tengah.

Mengurangi Plastik

Di antara dampak perang AS-Iran juga adalah tersendat atau berkurangnya pasokan bahan-bahan untuk pembuatan plastik dari Timur Tengah. Maka, karena kini manusia sudah menjadi manusia-manusia plastik yang tak bisa berpisah dengan plastik dalam hampir seluruh lokus kehidupannya, harga plastik pun naik.

Akibatnya, semua barang yang terkait plastik di Indonesia menjadi mahal. Kopi Tuku yang biasanya dijual per gelas plastik Rp. 23.000 kini menjadi Rp. 25.000. Demikian juga dengan harga makanan warteg rata-rata naik Rp. 2.000 per bungkus. Yang lebih naik lagi barang yang dijual secara online, apalagi yang pembungkusannya memerlukan bubble wrap. Harganya naik jauh.

Haji dalam hal ini merupakan momentum untuk mengurangi plastik karena plastik susah diurai di bumi, yang tak ramah lingkungan. Disebut momentum, karena salah satu larangan saat berhaji adalah memburu dan membunuh binatang liar dan halal dimakan, sikap tidak cinta lingkungan hidup.

Bahkan, bukan hanya saat beribadah haji, selama kaum Muslimin berada di tanah haram Mekah, tak dibolehkan untuk berburu binatang dan pohon-pohonnya juga tak boleh dipotong. Bahkan, rumputnya pun tak boleh dicabut. Ciri orang yang hajinya mabrûr juga adalah harta yang digunakan berhaji didapat dengan tak menzalimi orang lain dan makhluk lain. Saat kembali, harus berbuat baik kepada sesama manusia dan makhluk hidup lainnya sesuai ajaran Islam.

Haji tampak menjadi momentum untuk mengurangi penggunaan plastik dengan beralih pada alternatif lain yang ramah lingkungan. Di antaranya bio-cassava (kantong singkong) yang terbuat dari pati tapioka dan minyak nabati yang bentuknya sangat mirip plastik; tas kain dan jaring , kertas daur ulang; baja tahan karat (stainless steel) dan kaca (botol); dan plastik pati jagung/bio-plastik. Wallâh a’lam bis-shawâb.

Dan itu tampak dari pernyataan Imam Ali Khamenei: “Kebijakan luar negeri kita (Iran) didasarkan pada keadilan, bukan agresi”. Apalagi harga diri nasional Iran yang pernah menjadi imperium dunia semasa Romawi sangat tinggi. Karya Firdausi (w. 1026) berjudul Syahnameh --epos yang mengisahkan raja-raja besar Iran, puncak kejayaan masa lalu Iran pra Islam-- merupakan karya monumental yang selama ratusan tahun, masyarakat Iran membaca, menceritakan, dan mendengarkan kisah kepahlawanan di dalamnya secara turun temurun.

Disebut haji sebagai momentum, karena adanya ibadah haji di bulan Zulhijjah, terutama 9-13 Zulhijjah, pra dan pasca Idul Adha, merupakan salah satu bulan haram, yang dimuliakan. Bulan haram itu adalah Zulqa’dah, Zulhijjah, dan Muharram yang berturut-turut. Juga Rajab yang terpisah.

Dalam empat bulan itu, terutama tiga bulan yang berturut-turut, tak boleh ada peperangan untuk memberikan kemungkinan semua suku Arab dari berbagai pelosok jazirah Arab, utara dan selatan, beribadah haji ke Makkah, dan perjalanan pra dan pasca haji dengan damai. Dan ini sudah berlaku sejak masa jahiliyah (pra Islam sekalipun). Apalagi pada masa Islam seperti saat ini yang tertera dalam QS. at-Taubah/9: 36.

Meski begitu, memang dalam ayat itu, jika diserang dan kaum penyerang non Muslim tak mau berdamai, umat Islam dibolehkan meladeninya, meski tetap idealnya tak boleh berperang. Apalagi, kini terlampau banyak umat Islam di seluruh dunia yang sedang melakukan ibadah haji di Mekah.

Dalam haji juga terdapat larangan bermusuhan apalagi berkelahi/berperang antar sesama manusia, yang jika dilanggar, hanya sah hajinya, jika pelakunya membayar dam (denda) dengan menyembelih kambing. Perang juga bertentangan dengan esensi wukuf (tinggal) di ‘Arafah, pertemuan semua manusia di bumi, untuk mengingatkan pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa setelah lama berpisah.

Humanisme/cinta kemanusiaan sebagai kebalikan dari perang tampak di sini. Apalagi dalam khotbah haji wadâ’ (perpisahan) Nabi di Arafah, Nabi menekankan keharusan manusia untuk menjaga darah (hak hidup [ad-dimâ`]) manusia, juga hak harta kekayaan (al-amwâl), di mana dalam Islam hak kepemilikan harta individual diakui, dan hak menjaga harga diri manusia (al-A’râdh), yang itu berarti pemenuhan agama dan ilmu pengetahuan/pendidikan (hati dan akal), yang banyak hancur akibat perang AS-Iran. Perang juga bertentangan dengan bacaan talbiyyah saat haji dan juga bacaan saat wukuf di ‘Arafah, di mana seseorang tak boleh menjadi hamba selain Allah, termasuk nafsu angkara murkanya seperti perang. Thawâf dan Sa’i yang menekankan kebersamaan dengan sesama manusia juga bertentangan dengan tindakan perang.

Yang harus diingat dua pihak yang berperang, dalam Perang Dunia (PD) I, dengan ditemukan persenjataan baru (senapan mesin, tank-tank dan pesawat terbang, bukan atom dan nuklir seperti saat ini), meskipun Inggris dan sekutu memenangkan peperangan, ketika perang berakhir pada tahun 1918, Inggris kehilangan 1.000.000 orang penduduk dan tentaranya. Dalam PD II, negara seperti Uni Sovyet kehilangan sekitar 27 juta tentara dan warga sipilnya. Apalagi negara yang menjadi jajahan mereka/Barat umumnya.

Artikel ini telah diterbitkan di Republika pada Selasa, 26 Mei 2026.