Doktor Sejarah UIN Jakarta Beberkan Peran Kopi dalam Sejarah Komunitas Intelektual 

Doktor Sejarah UIN Jakarta Beberkan Peran Kopi dalam Sejarah Komunitas Intelektual 

Gedung Rektorat, Berita UIN Online — Program Kajian Ramadan Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali digelar secara daring, Jumat (14/03/2025), dengan menghadirkan Dosen Fakultas Adab dan Humaniora, Prodi Sejarah dan Peradaban Islam, Dr. Awalia Rahma, M.A.. Dalam presentasinya, Dr. Awalia Rahma menuturkan perjalanan panjang sejarah kopi dan peranannya dalam komunitas intelektual dalam perspekif sejarah Islam.

Perjalanan budaya kopi, tuturnya, dimulai dari Timur Tengah, terutama Yaman, yang menjadi tempat pertama kali kopi digunakan oleh kelompok tarekat sebagai stimulan untuk ibadah. Seiring berjalannya waktu, kopi menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial dan intelektual. Tidak hanya sebagai minuman, tetapi juga sebagai media komunikasi dan interaksi sosial. “Coffee Culture dikenalkan oleh Etiopia, tetapi orang yang pertama mengenalkan kopi ke dunia adalah orang Yaman,” menurut dosen Sejarah Peradaban Islam tersebut.

Mengutip Tarih-i Pecevi, Dr. Awalia menggambarkan kebiasaan bangsawan dan intelektual Utsmani yang sering menghabiskan waktu di kedai kopi atau kahvehane. Mereka biasanya duduk berkelompok, membaca buku, bermain backgammon atau catur, serta mendengarkan cerita atau membaca puisi. “Ini menunjukkan bagaimana kedai kopi menjadi tempat bertemunya ide-ide dan gagasan yang melibatkan diskusi intelektual,” jelasnya.

Begitupun, sama hal-nya di kedai kopi Oxford, yang pengunjung tetapnya diberi nama ‘Oxford Coffe Club’ yang menjadi embrio bagi kelahiran The Royal Society. Kelompok ini merupakan kelompok ilmuwan tertua di dunia yang hingga kini menerbitkan jurnal sains pertama yang masih bertahan. “Karena kedai kopi, Oxford mampu melahirkan tokoh ilmuwan yang berperan dalam sejarah pendidikan di Inggris. Dunia akademik berutang pada kopi,” imbuhnya.

Dr. Awalia juga menceritakan pengalaman mahasiswa Stovia pada masa kolonial Belanda. “Ketika masih menjadi mahasiswa di Stovia, setiap Sabtu sore, Hatta dan teman-temannya biasa berjalan-jalan di daerah Pasar Baru hingga malam hari ke Weltevreden. Menu tetap mereka setiap ke warung makan adalah nasi goreng, sate ayam, dan kopi," jelasnya. 

Kebiasaan ini tidak hanya sekadar untuk menikmati kopi, tetapi juga sebagai sarana untuk mempererat hubungan antar mahasiswa dan membentuk solidaritas intelektual di kalangan mereka.

Sedangkan sejarah budaya minum kopi di Indonesia berkembang di Jawa pada abad ke-15 hingga ke-16, seiring dengan kedatangan para mahasiswa dan ulama Islam yang membawa tradisi ini. Para mahasiswa dan ulama islam tersebut, lebih dikenal sebagai pendakwah dan penasehat keagamaan, tetapi juga berperan dalam pengelolaan usaha, termasuk perkebunan kopi. 

Pada akhir abad ke-19, santri di daerah produksi kopi kadang-kadang lebih sibuk mengurusi kebun kopi daripada belajar agama. “Hal ini menunjukkan, bagaimana budaya kopi turut berinteraksi dengan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat pada masa itu,” jelasnya.

Dalam sesi akhir pemaparan materinya, Dr. Awalia menekankan pentingnya kopi dalam sejarah Islam dan peranannya yang tidak hanya sebatas minuman, tetapi juga sebagai simbol interaksi sosial, pembentukan komunitas intelektual, serta bagian dari sejarah budaya yang terus berkembang hingga saat ini. “Kopi telah menjadi lebih dari sekedar minuman, ia menjadi jembatan untuk pertukaran ide dan gagasan yang melahirkan banyak inovasi intelektual di dunia," tutupnya.

(Alfina Ika A./Zaenal M./Amalia Vilistin)

Tag :