Dekan FDI UIN Jakarta: Puasa Melatih Kesabaran dalam Kehidupan
Masjid al-Jami’ah, Berita UIN Online— Masjid Al-Jamiah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali menggelar kultum Ramadan, Selasa (11/3/2025). Dalam kesempatan ini, Dekan Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI), Dr. Hj. Yuli Yasin M.A., menjadi narasumber dengan membawakan tausiah bertema ‘Hikmah Puasa dalam Membangun Kesabaran’.
Dalam kultumnya, Dr. Yuli Yasin menyampaikan bahwa puasa memiliki banyak hikmah, salah satunya sebagai sarana melatih kesabaran. “Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga membentuk pribadi yang lebih sabar dalam berbagai aspek kehidupan," ujarnya.
Kesabaran sendiri, sebutnya, terbagi dalam tiga bentuk kesabaran yang harus diimplementasikan oleh setiap Muslim. Pertama, sabar dalam menjalankan ketaatan. “Berpuasa adalah bentuk ibadah yang membutuhkan kesabaran dalam melaksanakannya,” katanya.
Kedua, sabar dalam menjauhi maksiat. Menurutnya, puasa tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari perbuatan yang dapat mengurangi pahala puasa seperti ghibah dan perbuatan dosa lainnya. “Puasa harus menjadi momen untuk memperbaiki diri dengan menahan diri dari segala bentuk kemaksiatan,” tambahnya.
Ketiga, sabar dalam menghadapi konsekuensi ibadah (takdir). “Puasa tentu membawa konsekuensi seperti rasa lapar dan haus. Namun, inilah bagian dari latihan kesabaran agar kita bisa menghadapi takdir dengan lebih baik,” jelasnya.
Dalam ceramahnya, Dr. Yuli juga menyinggung tentang pentingnya kesabaran dalam kehidupan sehari-hari. Ia mencontohkan bagaimana seorang ayah harus bersabar dalam bekerja dan bagaimana seorang ibu harus tetap bersemangat menyiapkan makanan berbuka meskipun merasa lelah. “Kesabaran juga perlu diterapkan dalam kehidupan rumah tangga, sehingga beban dapat dibagi bersama dan menciptakan keharmonisan dalam keluarga,” ungkapnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan jamaah untuk tetap melaksanakan ibadah setelah berbuka puasa, seperti salat Tarawih. “Pahala orang yang menjalankan puasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan sangat besar, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, 'Man shoma imanan wahtisaban ghufira lahu ma taqaddama min dzanbihi' (Barang siapa berpuasa dengan iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni),” kutipnya.
Sebagai penutup, ia memberikan contoh nyata dari kisah para nabi dalam menerapkan kesabaran. Nabi Ibrahim AS adalah contoh kesabaran dalam ketaatan, Nabi Yusuf AS menjadi teladan dalam menahan diri dari maksiat, dan Ummu Sulaim menjadi bukti kesabaran dalam menerima takdir yang tidak menyenangkan.
“Jika kita menjalankan puasa dengan sungguh-sungguh dan mengamalkan tiga bentuk kesabaran ini, maka di luar Ramadan pun kita akan terbiasa menjadi pribadi yang lebih sabar dan Tangguh,” pungkasnya.
Kultum yang berlangsung dengan penuh khidmat ini dihadiri oleh dosen, mahasiswa, serta civitas akademika UIN Jakarta. Diharapkan, tausiah ini dapat memberikan motivasi bagi jamaah dalam meningkatkan kualitas ibadah selama bulan suci Ramadan. (zm)