Anak Muda dan Utang Digital: Ancaman "Buy Now Pay Later"

Anak Muda dan Utang Digital: Ancaman "Buy Now Pay Later"

Mohammad Nur Rianto Al Arif
(Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah,
Sekjen DPP Asosiasi Dosen Indonesia,
Pengurus DPP IAEI,
Pengurus ISEI Cab. Jakarta)

DI ERA digital, kemudahan sering kali datang tanpa terasa membawa konsekuensi. Salah satu inovasi finansial yang paling mencolok dalam beberapa tahun terakhir adalah layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau yang lebih populer disebut paylater.

Dengan satu klik, seseorang dapat membeli barang hari ini dan membayarnya nanti. Tanpa kartu kredit, tanpa proses panjang, dan sering kali tanpa rasa “berutang” secara psikologis.

Bagi generasi muda, khususnya Generasi Z dan Milenial, layanan BNPL hadir sebagai solusi instan di tengah gaya hidup serba cepat.

Namun di balik kemudahan tersebut, tersembunyi persoalan besar, yaitu potensi jebakan utang digital yang semakin mengkhawatirkan.

Fenomena ini bukan sekadar tren konsumsi, melainkan cerminan perubahan struktur ekonomi, perilaku finansial, hingga arah masa depan generasi produktif Indonesia.

Data menunjukkan bahwa pertumbuhan BNPL di Indonesia berlangsung sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Hingga pertengahan 2025, total utang masyarakat melalui skema paylater telah mencapai sekitar Rp 31,55 triliun. Bahkan, berbagai laporan memperkirakan angka ini terus meningkat seiring dengan ekspansi layanan dan penetrasi digital.

Dari sisi pengguna, jumlah debitur BNPL melonjak signifikan. Per akhir 2025, tercatat sekitar 24,52 juta orang menggunakan layanan ini atau naik hampir 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Data Ini bukan sekadar angka statistik, melainkan indikator bahwa BNPL telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Fakta yang lebih menarik, mayoritas pengguna layanan ini berasal dari kalangan anak muda. Generasi Milenial dan Gen Z menjadi motor utama pertumbuhan BNPL di Indonesia. Bahkan, dalam beberapa data, hampir 40 persen pengguna paylater berasal dari Gen Z.

Dengan kata lain, utang digital bukan lagi fenomena marginal, melainkan telah menjadi bagian dari budaya ekonomi generasi muda.

Terdapat beberapa faktor yang menjelaskan mengapa anak muda menjadi kelompok paling dominan dalam penggunaan BNPL.

Pertama, faktor kemudahan akses. Tidak seperti kredit konvensional, BNPL menawarkan proses yang sangat cepat, bahkan instan.

Tanpa jaminan, tanpa proses verifikasi rumit, dan sering kali hanya membutuhkan data dasar. Hal ini membuat BNPL terasa “ringan” dan tidak menakutkan.

Kedua, faktor literasi keuangan yang belum memadai. Banyak anak muda memahami investasi sebagai tren, tetapi belum sepenuhnya memahami manajemen utang. Dalam konteks ini, BNPL sering dipersepsikan sebagai alat bantu konsumsi, bukan sebagai kewajiban finansial.

Ketiga, faktor tekanan sosial dan gaya hidup digital. Media sosial menciptakan standar gaya hidup tertentu, mulai dari fashion, gadget, hingga pengalaman konsumsi.

BNPL kemudian menjadi jembatan untuk memenuhi ekspektasi tersebut, bahkan ketika kemampuan finansial belum mencukupi.

Keempat, faktor ketidakpastian ekonomi. Di tengah sulitnya mendapatkan pekerjaan tetap dan meningkatnya biaya hidup, BNPL menjadi solusi jangka pendek untuk menutup kebutuhan konsumsi.

Dalam kondisi ini, BNPL tidak lagi sekadar pilihan, melainkan menjadi “alat bertahan hidup” bagi sebagian anak muda.

Masalah utama dari BNPL bukan pada keberadaannya, melainkan pada cara penggunaannya. Ketika digunakan secara bijak, BNPL dapat membantu mengatur arus kas. Namun, dalam praktiknya, BNPL sering kali mendorong konsumsi impulsif.

Konsep “beli sekarang, bayar nanti” secara psikologis mengaburkan rasa kehilangan uang. Transaksi menjadi terasa ringan, karena beban pembayaran ditunda.

Akibatnya, seseorang dapat melakukan pembelian berulang tanpa menyadari akumulasi utang yang terus meningkat.

Fenomena ini diperparah oleh fakta bahwa banyak pengguna memiliki lebih dari satu fasilitas kredit digital. Dalam beberapa kasus, satu individu dapat menggunakan beberapa platform paylater sekaligus, menciptakan tumpukan kewajiban yang sulit dikendalikan.

Tidak mengherankan jika tingkat kredit bermasalah mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan. Rasio kredit macet BNPL bahkan telah menyentuh kisaran 4 persen, yaitu angka yang cukup mengkhawatirkan untuk produk yang tumbuh sangat cepat.

BNPL menciptakan apa yang dapat disebut sebagai ilusi kesejahteraan. Seseorang dapat terlihat konsumtif, aktif, dan “mapan” secara gaya hidup, padahal sebenarnya sedang menumpuk utang.

Dalam jangka pendek, hal ini mungkin tidak terasa. Namun dalam jangka panjang, akumulasi utang dapat menggerus kemampuan finansial, bahkan menghambat mobilitas ekonomi.

Lebih jauh, fenomena ini juga berpotensi menciptakan konsumsi semu. Permintaan yang didorong oleh utang tidak selalu mencerminkan daya beli riil masyarakat. Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini dapat menciptakan distorsi dalam perekonomian.

Dalam konteks makro, pertumbuhan konsumsi berbasis utang digital memang dapat mendorong ekonomi jangka pendek.

Namun, dalam jangka panjang, utang digital berpotensi menciptakan risiko sistemik terutama jika tingkat gagal bayar meningkat.

Tidak dapat dipungkiri, BNPL juga memiliki sisi positif. Layanan BNPL telah membuka akses pembiayaan bagi masyarakat yang sebelumnya tidak terjangkau layanan perbankan. Dalam hal ini, BNPL berkontribusi terhadap inklusi keuangan.

Namun, inklusi tanpa literasi adalah risiko. Pertumbuhan BNPL yang mencapai puluhan triliun rupiah menunjukkan adanya pergeseran dalam struktur pembiayaan konsumsi masyarakat. Dari yang sebelumnya berbasis pendapatan, kini bergeser menjadi berbasis kredit digital.

Kondisi ini adalah perubahan fundamental. Jika tidak diimbangi dengan regulasi yang memadai dan edukasi yang kuat, BNPL dapat berkembang menjadi sumber instabilitas finansial baik pada level individu maupun sistem.

Utang digital tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga pada aspek sosial dan psikologis. Bagi banyak anak muda, utang sering kali menjadi beban yang tidak terlihat.

Tidak ada penagih yang datang ke rumah, tidak ada tekanan langsung seperti kredit konvensional.

Namun, justru karena “tidak terlihat”, beban ini sering kali diabaikan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memicu stres finansial, kecemasan, bahkan konflik sosial. Terlebih jika utang tersebut mulai mengganggu kebutuhan dasar atau relasi keluarga.

Fenomena ini juga berpotensi memperkuat siklus ketimpangan. Anak muda yang terjebak dalam utang konsumtif akan kesulitan membangun aset produktif, seperti pendidikan, investasi, atau kepemilikan rumah.

Melihat perkembangan ini, peran regulator menjadi sangat penting. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengawasi pertumbuhan BNPL, tapi tantangan ke depan semakin kompleks.

Pertama, perlu adanya penguatan regulasi terkait batas kredit, transparansi bunga, dan mekanisme penagihan.

Kedua, integrasi data kredit menjadi kunci untuk mencegah over-leverage. Tanpa sistem yang terintegrasi, seseorang dapat dengan mudah mengakses berbagai layanan BNPL tanpa kontrol memadai.

Ketiga, literasi keuangan harus menjadi prioritas nasional. Edukasi mengenai utang, risiko, dan manajemen keuangan harus ditanamkan sejak dini.

Di tengah semua tantangan ini, anak muda tidak boleh hanya diposisikan sebagai korban. Mereka juga harus menjadi bagian dari solusi.

Pertama, dengan meningkatkan kesadaran finansial. Memahami bahwa setiap transaksi BNPL adalah utang, bukan sekadar “kemudahan”.

Kedua, dengan mengubah pola konsumsi. Dari konsumtif ke produktif, dari impulsif ke terencana.

Ketiga, dengan memanfaatkan teknologi secara bijak. Digitalisasi seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan kesejahteraan, bukan sebaliknya.

BNPL adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, layanan ini membuka akses, mendorong konsumsi, dan mempercepat inklusi keuangan. Di sisi lain, layanan ini membawa risiko utang, konsumsi berlebihan, dan ketidakstabilan finansial.

Bagi anak muda, pilihan ada di tangan mereka: apakah BNPL akan menjadi alat pemberdayaan atau justru jebakan yang menghambat masa depan.

Fenomena ini bukan sekadar isu finansial, melainkan isu generasi. Jika tidak ditangani dengan serius, utang digital hari ini bisa menjadi beban struktural di masa depan.

Artikel ini telah dipublikasikan di KOMPAS pada Kamis, 26 Maret 2026.